. Interaksi Sosial (minimal 2):
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Seorang anak penderita autisme, dengan jajaran mainan yang ia buat
Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme. Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para ahli dan paktisi di bidang autisme untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang tepat bagi mereka. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya adalah segera diberikannya intervensi yang tepat dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.
Referensi baku yang digunakan secara universal dalam mengenali jenis-jenis gangguan perkembangan pada anak adalah ICD (International Classification of Diseases) Revisi ke-10 tahun 1993 dan DSM (Diagnostic And Statistical Manual) Revisi IV tahun 1994 yang keduanya sama isinya. Secara khusus dalam kategori Gangguan Perkembangan Perpasiv (Perpasive Developmental Disorder/PDD): Autisme ditunjukkan bila ditemukan 6 atau lebih dari 12 gejala yang mengacu pada 3 bidang utama gangguan, yaitu: Interaksi Sosial – Komunikasi – Perilaku.
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti dari berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
* Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal
* The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
* The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka
* The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.
Diagnosa yang akurat dari Autisme maupun gangguan perkembangan lain yang berhubungan membutuhkan observasi yang menyeluruh terhadap: perilaku anak, kemampuan komunikasi dan kemampuan perkembangan lainnya. Akan sangat sulit mendiagnosa karena adanya berbagai macam gangguan yang terlihat. Observasi dan wawancara dengan orang tua juga sangat penting dalam mendiagnosa. Evaluasi tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu memungkinkan adanya standardisasi dalam mendiagnosa. Tim dapat terdiri dari neurolog, psikolog, pediatrik, paedagog, patologis ucapan/kebahasaan, okupasi terapi, pekerja sosial dan lain sebaginya.
Sumber : Wikipedia
Sabtu, 20 Maret 2010
Mental retardation
From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search
This article is semi-protected indefinitely in response to an ongoing high risk of vandalism.
Mental retardation
Classification and external resources
ICD-10 F70.-F79.
ICD-9 317-319
DiseasesDB 4509
eMedicine med/3095 neuro/605
MeSH D008607
Mental retardation (MR) is a generalized disorder, characterized by significantly impaired cognitive functioning and deficits in two or more adaptive behaviors with onset before the age of 18. It has historically been defined as an Intelligence Quotient score under 70.[1] Once focused almost entirely on cognition, the definition now includes both a component relating to mental functioning and one relating to individuals' functional skills in their environment.
Sumber : Wikipedia
Jump to: navigation, search
This article is semi-protected indefinitely in response to an ongoing high risk of vandalism.
Mental retardation
Classification and external resources
ICD-10 F70.-F79.
ICD-9 317-319
DiseasesDB 4509
eMedicine med/3095 neuro/605
MeSH D008607
Mental retardation (MR) is a generalized disorder, characterized by significantly impaired cognitive functioning and deficits in two or more adaptive behaviors with onset before the age of 18. It has historically been defined as an Intelligence Quotient score under 70.[1] Once focused almost entirely on cognition, the definition now includes both a component relating to mental functioning and one relating to individuals' functional skills in their environment.
Sumber : Wikipedia
Autism
Autism is a disorder of neural development characterized by impaired social interaction and communication, and by restricted and repetitive behavior. These signs all begin before a child is three years old.[1] Autism affects information processing in the brain by altering how nerve cells and their synapses connect and organize; how this occurs is not well understood.[2] The two other autism spectrum disorders (ASD) are Asperger syndrome, which lacks delays in cognitive development and language, and PDD-NOS, diagnosed when full criteria for the other two disorders are not met.[3]
Autism has a strong genetic basis, although the genetics of autism are complex and it is unclear whether ASD is explained more by rare mutations, or by rare combinations of common genetic variants.[4] In rare cases, autism is strongly associated with agents that cause birth defects.[5] Controversies surround other proposed environmental causes, such as heavy metals, pesticides or childhood vaccines;[6] the vaccine hypotheses are biologically implausible and lack convincing scientific evidence.[7] The prevalence of autism is about 1–2 per 1,000 people; the prevalence of ASD is about 6 per 1,000, with about four times as many males as females. The number of people diagnosed with autism has increased dramatically since the 1980s, partly due to changes in diagnostic practice; the question of whether actual prevalence has increased is unresolved.[8]
Parents usually notice signs in the first two years of their child's life.[9] The signs usually develop gradually, but some autistic children first develop more normally and then regress.[10] Although early behavioral or cognitive intervention can help autistic children gain self-care, social, and communication skills, there is no known cure.[9] Not many children with autism live independently after reaching adulthood, though some become successful.[11] An autistic culture has developed, with some individuals seeking a cure and others believing autism should be tolerated as a difference and not treated as a disorder.[12]
sumber : Wikipedia
Autism has a strong genetic basis, although the genetics of autism are complex and it is unclear whether ASD is explained more by rare mutations, or by rare combinations of common genetic variants.[4] In rare cases, autism is strongly associated with agents that cause birth defects.[5] Controversies surround other proposed environmental causes, such as heavy metals, pesticides or childhood vaccines;[6] the vaccine hypotheses are biologically implausible and lack convincing scientific evidence.[7] The prevalence of autism is about 1–2 per 1,000 people; the prevalence of ASD is about 6 per 1,000, with about four times as many males as females. The number of people diagnosed with autism has increased dramatically since the 1980s, partly due to changes in diagnostic practice; the question of whether actual prevalence has increased is unresolved.[8]
Parents usually notice signs in the first two years of their child's life.[9] The signs usually develop gradually, but some autistic children first develop more normally and then regress.[10] Although early behavioral or cognitive intervention can help autistic children gain self-care, social, and communication skills, there is no known cure.[9] Not many children with autism live independently after reaching adulthood, though some become successful.[11] An autistic culture has developed, with some individuals seeking a cure and others believing autism should be tolerated as a difference and not treated as a disorder.[12]
sumber : Wikipedia
Jumat, 19 Maret 2010
Indra Penglihatan
Percobaan : Indra Penglihatan
Nama Percobaan : Bintik ( Noda ) Buta
Nama Subjek Percobaan : Asti Winarsih
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui jarak (dalam cm) bintik buta seseorang
serta menentukan letak proyeksi bintik buta.
b. Dasar Teori : Bintik buta merupakan bagian dari retina yang tidak
mempunyai sel- sel penangkap cahaya atau tidak sensitive terhadap cahaya. Oleh karena itu cahaya yang jatuh di daerah bintik buta tidak akan menghasilkan penglihatan. Bintik buta terletak pada bagian belakang bola mata (retina).
c. Alat Yang Digunakan : Kertas hitam dengan tanda lingkaran dan tanda plus ber-
warna putih, …dan bulatan sebesar I cm berwarna putih dengan tongkat.
d. Jalannya Percobaan : 1. Praktikan melihat kartu berwarna dasar hitam dan ada 2
gambar.
2. Praktikan hanya disuruh melihat satu gambar dan me-
ngabaikan gambar yang lain.
3. Praktikan melihat kartu sepanjang tangan lalu perla-
han- lahan kartu semakin didekatkan pada mata dengan
satu mata tertutup.
e. Hasil Percobaan : Gambar mulai menghilang pada jarak 18 cm., lalu berte-
mu kembali pada jarak 16 cm.
Hasil sebenarnya : Rumus untuk mengukur jarak medan noda buta adalah :
= Jarak Objek Menghilang – jarak objek muncul
= 18 – 16
= 2
Catatan : Biasanya bintik buta hampir sama mata kiri dan mata ka- nan. Noda buta adalah suatu titik diman akson- akson meninggalkan mata hingga tidak ada reseptor, tidak sensitive terhadap cahaya normal jika -+ dibawah 40 cm. hilang tanda kira- kira berkisar 28- 32 cm dan muncul kembali 14- 16 cm.
f. Kesimpulan: Dengan mata normal, kita bisa melihat sesuatu yang ada dihadapan kita yang sangat luas. Tapi walau begitu, mata kita tetap memiliki keterbatasan dalam melihat. Contohnya pada gambar di bawah, jika kita melihatnya dengan mata kanan dan menutup mata kiri, lalu perhatikanlah gambar kucing dengan mata kanan. Maka gambar burungnya akan kabur atau menghilang. Seperti ketika kita melihat langit, langit terlihat dekat, tapi sebenarnya yang kita lihat itu bukanlah langit yang sebenarnya, itu hanyalah batas pandangan kita. Ini adalah salah satu bukti bahwa mata mempunyai keterbatasan penglihatan meskipun itu adalah mata normal.
g. Daftar Pustaka : bOcah, 2008, Bintik Buta, http://bOcah.org/index.php?
option=com content&task=view&id=690&Itemid=40, 20 November.
Nama Percobaan : Bintik ( Noda ) Buta
Nama Subjek Percobaan : Asti Winarsih
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui jarak (dalam cm) bintik buta seseorang
serta menentukan letak proyeksi bintik buta.
b. Dasar Teori : Bintik buta merupakan bagian dari retina yang tidak
mempunyai sel- sel penangkap cahaya atau tidak sensitive terhadap cahaya. Oleh karena itu cahaya yang jatuh di daerah bintik buta tidak akan menghasilkan penglihatan. Bintik buta terletak pada bagian belakang bola mata (retina).
c. Alat Yang Digunakan : Kertas hitam dengan tanda lingkaran dan tanda plus ber-
warna putih, …dan bulatan sebesar I cm berwarna putih dengan tongkat.
d. Jalannya Percobaan : 1. Praktikan melihat kartu berwarna dasar hitam dan ada 2
gambar.
2. Praktikan hanya disuruh melihat satu gambar dan me-
ngabaikan gambar yang lain.
3. Praktikan melihat kartu sepanjang tangan lalu perla-
han- lahan kartu semakin didekatkan pada mata dengan
satu mata tertutup.
e. Hasil Percobaan : Gambar mulai menghilang pada jarak 18 cm., lalu berte-
mu kembali pada jarak 16 cm.
Hasil sebenarnya : Rumus untuk mengukur jarak medan noda buta adalah :
= Jarak Objek Menghilang – jarak objek muncul
= 18 – 16
= 2
Catatan : Biasanya bintik buta hampir sama mata kiri dan mata ka- nan. Noda buta adalah suatu titik diman akson- akson meninggalkan mata hingga tidak ada reseptor, tidak sensitive terhadap cahaya normal jika -+ dibawah 40 cm. hilang tanda kira- kira berkisar 28- 32 cm dan muncul kembali 14- 16 cm.
f. Kesimpulan: Dengan mata normal, kita bisa melihat sesuatu yang ada dihadapan kita yang sangat luas. Tapi walau begitu, mata kita tetap memiliki keterbatasan dalam melihat. Contohnya pada gambar di bawah, jika kita melihatnya dengan mata kanan dan menutup mata kiri, lalu perhatikanlah gambar kucing dengan mata kanan. Maka gambar burungnya akan kabur atau menghilang. Seperti ketika kita melihat langit, langit terlihat dekat, tapi sebenarnya yang kita lihat itu bukanlah langit yang sebenarnya, itu hanyalah batas pandangan kita. Ini adalah salah satu bukti bahwa mata mempunyai keterbatasan penglihatan meskipun itu adalah mata normal.
g. Daftar Pustaka : bOcah, 2008, Bintik Buta, http://bOcah.org/index.php?
option=com content&task=view&id=690&Itemid=40, 20 November.
Senin, 15 Maret 2010
Pintar atau Bodoh
Pintar atau Bodoh
Bukan tujuan hidup
Tapi itu adalah pilihan hidup.
Apakah...
Menjadi orang bodoh
Dapat membuat kita
Menjadi...
Manusia yang bermanfaat?
Begitu juga kepintaran
Apakah dengan kepintaran
Akan membuat kita
Menjadi lebih bermanfaat
Bagi manusia lain?
Karena...
Sebaik- baiknya manusia
Adalah...
Manusia yang bermanfaat
Bagi manusia lain.
Bukan tujuan hidup
Tapi itu adalah pilihan hidup.
Apakah...
Menjadi orang bodoh
Dapat membuat kita
Menjadi...
Manusia yang bermanfaat?
Begitu juga kepintaran
Apakah dengan kepintaran
Akan membuat kita
Menjadi lebih bermanfaat
Bagi manusia lain?
Karena...
Sebaik- baiknya manusia
Adalah...
Manusia yang bermanfaat
Bagi manusia lain.
Penyebab
Di dunia ini...
Kita hanyalah...
Penyebab bagi orang lain.
Dan...
Pilihan kita adalah...
Tetap hidup di jalan Sang Pencipta.
Agar kita...
Menjadi penyebab yang baik...
Bagi orang lain.
Dan...
Setiap manusia...
Akan menanggung...
Nasipnya Masing- masing.
Kita hanyalah...
Penyebab bagi orang lain.
Dan...
Pilihan kita adalah...
Tetap hidup di jalan Sang Pencipta.
Agar kita...
Menjadi penyebab yang baik...
Bagi orang lain.
Dan...
Setiap manusia...
Akan menanggung...
Nasipnya Masing- masing.
Sama
Semua yang terjadi di luar
Adalah serupa.
Dengan yang terjadi di dalam
Diri manusia
Yaitu...
Pikiran dan perasaan
Karena memikirkan
Berarti mengundang
Sumber: Charles Brodi, 1899
Adalah serupa.
Dengan yang terjadi di dalam
Diri manusia
Yaitu...
Pikiran dan perasaan
Karena memikirkan
Berarti mengundang
Sumber: Charles Brodi, 1899
Langganan:
Postingan (Atom)